Artikel
Wisata Solo: Menjelajah Sejarah, Budaya, & Kuliner Bikin Kangen
Solo itu bukan sekadar kota, tapi semacam mesin waktu yang bisa membawamu dari era kejayaan Keraton hingga gerobak angkringan yang penuh cerita. Di sini, budaya dan sejarah bercampur dengan kuliner yang bikin lidah bergoyang. Menikmati wisata solo Kamu bisa melangkah di jejak para raja di Keraton Surakarta, menyusuri Kampung Batik Laweyan, atau sekadar duduk menikmati sepiring Nasi Liwet Solo yang legendaris.
Tapi, tunggu dulu. Solo bukan cuma soal bangunan tua dan makanan enak. Buat Kamu yang suka petualangan, ada wisata alam dan outdoor yang bisa bikin kaki pegal tapi hati senang. Atau mungkin Kamu lebih suka belanja? Tenang, Pasar Klewer dan pusat oleh-oleh khas Solo siap bikin koper Kamu mendadak penuh.
Mau tahu tempat-tempat terbaik yang wajib masuk itinerary-mu? Simak panduan lengkapnya di bawah ini!
kuliner solo
Masjid Raya Sheikh Zayed Solo
Saat pertama kali melangkah ke Masjid Raya Sheikh Zayed, aku sempat terpaku. Bangunannya berdiri megah dengan dominasi warna putih yang bersih, serasa sedang berada di Abu Dhabi. Masjid ini memang hadiah dari Uni Emirat Arab untuk Indonesia, sebagai simbol persahabatan antara dua negara.
Masuk ke dalam, suasana berubah lebih syahdu. Ornamen-ornamen Islam berpadu dengan cahaya alami yang masuk dari kubah besar. Salat di sini rasanya berbeda, lebih khusyuk, lebih mendalam. Kalau Kamu ingin merasakan pengalaman spiritual yang lebih kuat, cobalah datang saat subuh atau magrib—ketika langit Solo berubah warna dan suasananya semakin syahdu.
Masjid Agung Keraton Surakarta: Menyusuri Jejak Waktu
Masjid ini bukan sekadar tempat ibadah, tapi juga saksi sejarah Keraton Surakarta. Dibangun pada abad ke-18, Masjid Agung Keraton Surakarta masih berdiri kokoh dengan atap limasan khas Jawa.
Aku ingat pertama kali ke sini, aku hanya ingin melihat bangunannya. Tapi begitu duduk di serambi masjid dan merasakan angin sepoi-sepoi yang berhembus dari halaman, aku mulai berpikir—berapa banyak orang yang sudah datang ke sini dengan berbagai doa dan harapan?
Di masjid ini, aku melihat jamaah yang duduk diam dalam tafakur, ada yang membaca Al-Qur'an, ada pula yang sekadar memejamkan mata menikmati ketenangan. Di sini, waktu seolah berjalan lebih lambat.
Wisata Sejarah dan Budaya di Solo
Solo adalah kota dengan napas sejarah yang masih terasa hingga sekarang. Dari keraton megah hingga museum yang menyimpan cerita panjang, setiap sudut Solo punya kisahnya sendiri. Jika Kamu ingin menyelami lebih dalam budaya dan sejarah Jawa, Solo adalah tempat yang tepat. Keraton Surakarta Hadiningrat Jika Jogja punya Keraton Yogyakarta, Solo punya Keraton Surakarta Hadiningrat, yang tidak kalah megah dan sarat makna. Keraton ini didirikan pada tahun 1745 oleh Sunan Pakubuwono II setelah pemindahan ibu kota dari Kartasura. Arsitekturnya menggabungkan gaya Jawa klasik dengan pengaruh Eropa, menciptakan bangunan yang unik dan penuh filosofi. Menariknya, ada perbedaan mendasar antara Keraton Surakarta dan Keraton Yogyakarta. Salah satunya adalah struktur pemerintahan dan pembagian wilayah yang berakar dari perjanjian Giyanti tahun 1755. Selain itu, keraton ini masih aktif digunakan untuk pelestarian budaya Jawa, seperti upacara adat dan pertunjukan seni. Oh, dan satu lagi—jangan lupa cari tahu fakta unik tentang Keraton Surakarta, seperti mitos lorong rahasia yang konon menghubungkan keraton dengan Pura Mangkunegaran!Pura Mangkunegaran
Tidak jauh dari keraton, Pura Mangkunegaran berdiri dengan keanggunannya sendiri. Dibangun pada tahun 1757 oleh Mangkunegara I, kompleks ini adalah pusat pemerintahan Kadipaten Mangkunegaran yang memiliki sejarah panjang dalam politik dan budaya Jawa. Arsitekturnya merupakan perpaduan antara gaya Jawa dan Eropa, terlihat dari pendopo besar dengan pilar-pilar khas neoklasik. Selain bangunan utama, Koleksi Museum Pura Mangkunegaran juga sangat menarik, menyimpan berbagai benda pusaka, wayang, hingga perhiasan milik keluarga Mangkunegaran. Jangan lupa, pura ini juga menjadi tempat berlangsungnya berbagai tradisi dan upacara adat yang masih dilestarikan hingga sekarang.Kampung Batik Laweyan
Solo dan batik itu seperti kopi dan gula—tidak bisa dipisahkan. Kampung Batik Laweyan adalah salah satu saksi sejarah perkembangan batik di Nusantara. Kampung ini sudah ada sejak zaman kerajaan Mataram Islam dan menjadi pusat industri batik tertua di Solo. Selain berburu produk batik khas Laweyan, Kamu juga bisa mengikuti wisata edukasi di Kampung Batik Laweyan untuk belajar langsung bagaimana kain batik dibuat dengan teknik tradisional. Menariknya, kawasan ini juga memiliki arsitektur khas dengan bangunan-bangunan tua bergaya kolonial yang memberikan nuansa klasik nan eksotis.Kampung Batik Kauman
Kalau Laweyan dikenal dengan batik pesisirnya yang penuh warna, maka Kampung Batik Kauman lebih identik dengan batik klasik Solo yang cenderung berwarna gelap dengan motif-motif khas kerajaan. Kampung ini dulunya merupakan tempat tinggal para abdi dalem keraton yang juga berprofesi sebagai pembatik. Sama seperti Laweyan, wisata edukasi di Kampung Batik Kauman juga bisa Kamu ikuti untuk lebih memahami filosofi batik Solo. Selain itu, bangunan di kampung ini juga menarik karena masih mempertahankan bentuk rumah tradisional khas Jawa yang berusia ratusan tahun.Benteng Vastenburg
Dibangun oleh Gubernur Jenderal Baron van Imhoff pada abad ke-18, Benteng Vastenburg adalah saksi bisu era kolonial di Solo. Benteng ini dulunya digunakan oleh Belanda untuk mengawasi pergerakan Keraton Surakarta. Saat ini, lokasinya menjadi salah satu destinasi wisata sejarah yang menarik di tengah kota Solo. Meskipun beberapa bagian bangunan sudah mengalami kerusakan, nuansa sejarahnya masih terasa kuat. Banyak wisatawan yang datang untuk melihat langsung benteng di Solo yang memiliki nilai strategis dalam sejarah perjuangan Indonesia.Museum Radya Pustaka
Kalau Kamu ingin melihat koleksi benda-benda bersejarah yang berkaitan dengan Solo dan Jawa, Museum Radya Pustaka adalah tempat yang wajib dikunjungi. Berdiri sejak tahun 1890, museum ini adalah museum tertua di Indonesia yang menyimpan berbagai naskah kuno, arca, keris, dan benda pusaka lainnya. Di sini, Kamu bisa melihat koleksi Museum Radya Pustaka yang terdiri dari berbagai peninggalan budaya dan sejarah, termasuk manuskrip berbahasa Jawa kuno yang masih terjaga keasliannya. Lokasi Museum Radya Pustaka pun cukup strategis, berada di Jalan Slamet Riyadi, sehingga mudah dijangkau. Selain menikmati koleksi berharga, Kamu juga bisa mengikuti program edukasi di Museum Radya Pustaka, yang sering mengadakan seminar atau diskusi seputar sejarah dan kebudayaan Jawa. Dan jangan lupa—museum ini selain menjadi destinasi wisata solo, juga menjadi salah satu tempat konservasi benda pusaka, lho. Jadi, setiap benda yang dipamerkan di sini bukan sekadar pajangan, tapi masih dirawat dengan metode khusus agar tetap lestari untuk generasi mendatang.Museum Batik Danar Hadi
Kalau Kamu penasaran dengan kekayaan batik Solo, Museum Batik Danar Hadi adalah destinasi yang wajib masuk dalam daftar perjalananmu. Museum ini tidak hanya menampilkan batik khas Solo, tetapi juga koleksi dari berbagai daerah dan era yang berbeda. Di sini, Kamu bisa melihat sejarah Museum Batik Danar Hadi serta bagaimana batik berkembang dari masa ke masa. Ada lebih dari 1.000 koleksi batik yang dipamerkan, mulai dari batik klasik, batik pesisiran, hingga batik yang mendapat pengaruh dari budaya Tionghoa, India, dan Eropa. Selain itu, museum ini juga memiliki galeri produksi batik di mana Kamu bisa melihat langsung proses pembuatan batik tulis secara tradisional. Untuk masuk ke museum ini, Kamu perlu membayar harga tiket Museum Batik Danar Hadi, yang cukup terjangkau untuk pengalaman edukatif yang tak ternilai. Oh ya, alamat Museum Batik Danar Hadi ada di Jalan Slamet Riyadi, jadi sangat mudah dijangkau jika Kamu sedang jalan-jalan di pusat kota Solo.Loji Gandrung
Bagi pecinta arsitektur klasik, Loji Gandrung adalah salah satu bangunan bersejarah yang menarik di Solo. Dulu, bangunan ini digunakan sebagai tempat peristirahatan pejabat kolonial Belanda sebelum akhirnya menjadi kediaman resmi Wali Kota Solo. Sejarah Loji Gandrung erat kaitannya dengan era kolonial, dan hingga kini bangunannya masih berdiri megah dengan gaya arsitektur Eropa yang khas. Meskipun tidak dibuka untuk umum setiap hari, Kamu bisa melihat fungsi Loji Gandrung sekarang, yang sering digunakan untuk acara kenegaraan dan kunjungan tamu penting. Kalau penasaran dengan lokasinya, alamat Loji Gandrung ada di Jalan Slamet Riyadi, tidak jauh dari pusat kota.Gedung Djoeang 45
Buat Kamu yang ingin menelusuri jejak perjuangan kemerdekaan di Solo, Gedung Djoeang 45 adalah tempat yang pas. Bangunan ini menjadi saksi bisu perlawanan rakyat Solo melawan penjajah di masa revolusi. Di sini, Kamu bisa melihat sejarah Gedung Djoeang 45 dan berbagai artefak perjuangan yang masih terjaga. Lokasi Gedung Djoeang 45 juga cukup strategis, sehingga mudah dikunjungi bagi wisatawan yang ingin menambah wawasan tentang sejarah perjuangan bangsa.Taman Sriwedari
Dikenal sebagai salah satu pusat hiburan rakyat sejak zaman dahulu, Taman Sriwedari adalah tempat yang kaya akan nilai budaya dan sejarah. Dulunya, taman ini digunakan oleh keluarga kerajaan untuk bersantai, sebelum akhirnya menjadi tempat pertunjukan seni dan budaya. Sejarah Taman Sriwedari juga erat kaitannya dengan perkembangan seni di Solo, khususnya wayang orang. Sampai sekarang, di kawasan ini masih sering diadakan pementasan wayang orang yang bisa Kamu saksikan. Lokasi Taman Sriwedari sangat strategis, sehingga mudah dijangkau bagi wisatawan yang ingin menikmati suasana Solo di malam hari dengan sentuhan budaya Jawa yang autentik. Solo memang asyik dijelajahi, apalagi kalau perjalanannya nyaman dan bebas ribet. Kalau Kamu datang rame-rame bareng keluarga, teman, atau rombongan, pilihan terbaiknya adalah sewa Hiace! Nyaman, luas, dan siap mengantar Kamu ke setiap sudut Solo tanpa repot mikirin transportasi. Dan kabar baiknya, Paradiso Tour menyediakan layanan sewa Hiace solo dengan harga bersahabat dan layanan terbaik! Jadi, tinggal duduk manis, nikmati perjalanan, dan biarkan Solo memanjakanmu. Mau keliling Solo dengan Hiace? Sewa sekarang di https://hiaceindonesia.com/ dan buat perjalananmu lebih seru dan praktis!
kuliner solo
Kuliner Khas Solo
Kalau bicara soal Solo, rasanya kurang lengkap kalau tidak membahas kulinernya. Kota ini punya deretan hidangan khas yang bisa bikin lidah bergoyang dan perut bahagia. Mulai dari yang gurih, manis, sampai yang pedas, semua ada. Jadi, kalau Kamu ke Solo, jangan cuma wisata sejarah, tapi juga wajib wisata kuliner!Nasi Liwet Solo
Ini dia kuliner ikonik Solo yang harus masuk daftar makan siangmu! Nasi Liwet Solo adalah nasi gurih yang dimasak dengan santan, disajikan dengan sayur labu siam, suwiran ayam, telur pindang, dan tentu saja areh (semacam bubur santan kental yang bikin rasanya makin mantap). Biasanya, nasi liwet disajikan di atas daun pisang, yang menambah aroma khas saat disantap. Paling nikmat kalau dimakan hangat-hangat dengan tambahan kerupuk atau rempeyek. Jangan heran kalau satu porsi rasanya kurang—karena enaknya bikin nagih!Serabi Notosuman
Kalau Kamu suka jajanan tradisional, Serabi Notosuman adalah pilihan yang tidak boleh dilewatkan. Serabi ini berbeda dari serabi pada umumnya karena teksturnya lebih lembut, tipis, dan sedikit kenyal di bagian pinggir. Pilihan rasanya pun sederhana: original (tanpa topping) atau cokelat (dengan taburan meses). Meski sederhana, rasanya luar biasa. Wangi pandan dan santannya benar-benar menggoda! Untuk pengalaman terbaik, langsung saja mampir ke Serabi Notosuman asli di Jalan Moh. Yamin.Sate Buntel Solo
Pernah dengar sate yang dibungkus? Sate Buntel Solo adalah sate khas yang terbuat dari daging kambing cincang, kemudian dibungkus dengan lemak tipis sebelum dibakar. Proses ini membuat dagingnya tetap juicy dan kaya rasa. Disajikan dengan kecap manis, irisan bawang merah, dan cabai rawit, sate ini benar-benar cocok buat Kamu yang doyan makanan berprotein tinggi. Paling enak dimakan dengan sepiring nasi hangat dan segelas teh hangat.Selat Solo
Kalau Kamu suka makanan dengan sentuhan Eropa, Selat Solo wajib dicoba. Hidangan ini adalah adaptasi dari bistik Belanda yang disesuaikan dengan lidah Jawa. Dalam satu porsi, Kamu akan mendapatkan irisan daging sapi yang empuk, disiram kuah manis gurih, dan dilengkapi dengan kentang goreng, wortel, buncis, telur pindang, serta acar timun. Porsinya cukup mengenyangkan, tapi tetap ringan di perut.Tengkleng Solo
Buat pecinta makanan berkuah, Tengkleng Solo adalah sajian yang tak boleh dilewatkan. Sekilas mirip gulai kambing, tetapi tengkleng punya kuah yang lebih encer dan rasa yang lebih tajam. Isian utamanya adalah tulang kambing dengan sedikit daging yang masih menempel. Cara makannya? Gunakan tangan, seruput kuahnya, dan nikmati sensasi menyedot sumsum dari tulangnya. Lezat!Timlo Solo
Wisata Kuliner Solo juga punya sop khas bernama Timlo Solo. Hidangan ini terdiri dari kuah bening dengan isian telur pindang, sosis solo (semacam risol isi ayam), ati ampela, dan potongan ayam. Timlo paling nikmat disantap saat pagi atau malam hari, terutama jika cuaca sedang dingin. Banyak warung timlo legendaris di Solo, salah satu yang terkenal adalah Timlo Sastro di Pasar Gede.Sate Kere Solo
Siapa bilang sate harus selalu dari daging mahal? Di Solo, ada Sate Kere, yaitu sate yang terbuat dari tempe gembus (ampas tahu). Meski sederhana, rasanya tetap enak karena dibumbui dengan kecap manis dan sambal kacang. Selain tempe gembus, ada juga varian sate kere yang menggunakan jeroan sapi seperti usus, babat, dan paru. Sate ini sering dijual di pinggir jalan dan cocok untuk camilan sore.Cabuk Rambak
Mungkin ini salah satu kuliner Solo yang cukup unik. Cabuk Rambak adalah makanan ringan yang terdiri dari ketupat yang dipotong tipis, kemudian disiram saus wijen berbumbu kelapa. Biasanya disajikan dengan kerupuk karak (kerupuk nasi yang renyah). Rasanya gurih, sedikit pedas, dan ringan di perut. Cocok buat sarapan atau camilan sore.Pecel Ndeso
Buat Kamu yang suka makanan sehat, Pecel Ndeso bisa jadi pilihan. Berbeda dari pecel biasa, pecel ini menggunakan nasi merah sebagai pelengkapnya. Sayurannya beragam, mulai dari bayam, kacang panjang, hingga bunga turi. Bumbu kacangnya juga lebih khas, dengan rasa yang sedikit lebih pedas dibandingkan pecel pada umumnya.Lenjongan Solo
Kalau Kamu ingin menikmati aneka jajanan tradisional dalam satu piring, Lenjongan Solo adalah jawabannya. Isinya beragam, mulai dari gethuk, tiwul, klepon, cenil, hingga ketan, semuanya disajikan dengan taburan kelapa parut dan gula merah cair. Lenjongan ini sering dijual di pasar tradisional atau di pinggir jalan sebagai jajanan murah meriah yang tetap menggugah selera.Wisata Alam dan Outdoor di Solo dan Sekitar
Solo bukan cuma soal sejarah dan kuliner, wisata solo tapi juga punya destinasi alam yang bikin Kamu bisa lepas dari hiruk-pikuk kota. Mau jalan-jalan santai, cari udara segar, atau uji adrenalin? Semua ada di sini. Mau tau?Taman Balekambang Solo
Kalau Kamu butuh tempat untuk leyeh-leyeh di tengah kota, Taman Balekambang adalah tempat yang tepat. Taman hijau ini sudah ada sejak 1921 dan masih jadi favorit warga Solo untuk bersantai. Di sini, Kamu bisa duduk di bawah pohon rindang, memberi makan rusa, atau naik perahu di danau kecil. Kalau datang di waktu yang tepat, Kamu juga bisa menikmati pertunjukan seni seperti wayang orang atau ketoprak.Kebun Teh Kemuning
Mau suasana yang lebih sejuk? Meluncurlah ke Kebun Teh Kemuning di kaki Gunung Lawu. Hamparan hijau kebun teh ini tidak hanya cantik buat foto-foto, tapi juga bikin pikiran lebih rileks. Kamu bisa jalan santai di antara tanaman teh, menghirup udara segar, atau kalau mau yang lebih menantang, coba off-road dengan jeep. Setelah puas berkeliling, jangan lupa mampir ke warung teh setempat untuk menikmati teh hangat langsung dari sumbernya.Air Terjun Grojogan Sewu
Siap untuk sedikit trekking? Air Terjun Grojogan Sewu di Tawangmangu bisa jadi pilihan. Untuk sampai ke air terjun ini, Kamu harus menuruni ratusan anak tangga—lumayan buat olahraga!. Tapi semua perjuangan itu terbayar lunas saat Kamu melihat air terjun setinggi 80 meter yang dikelilingi pepohonan hijau. Udara di sini sejuk, dan kalau beruntung, Kamu bisa bertemu kawanan monyet yang suka berkeliaran di sekitar lokasi.The Lawu Park
Buat Kamu yang ingin suasana pegunungan dengan fasilitas lengkap, The Lawu Park adalah destinasi yang pas. Ini adalah tempat wisata alam modern di kaki Gunung Lawu dengan banyak aktivitas seru seperti outbond, ATV, dan glamping. Selain itu, ada juga café dengan pemandangan hutan pinus yang bikin betah duduk berlama-lama. Cocok buat Kamu yang ingin healing tanpa harus capek trekking.Solo Safari
wisata solo yang satu ini sebelumnya dikenal sebagai Taman Satwa Taru Jurug, sekarang tempat ini berubah menjadi Solo Safari dengan konsep yang lebih modern dan interaktif. Di sini, Kamu bisa melihat berbagai satwa seperti harimau, gajah, dan orangutan, sambil belajar tentang konservasi alam. Ada juga program feeding time dan edukasi satwa yang cocok buat wisata keluarga. Jadi, kalau Kamu datang ke Solo bersama anak-anak, tempat ini bisa jadi pilihan.Kemuning Sky Hills
Pernah membayangkan sarapan atau ngopi di atas bukit dengan pemandangan kabut yang mengelilingi? Kemuning Sky Hills menawarkan pengalaman itu. Lokasinya berada di kawasan Kemuning, Karanganyar, dan sering disebut sebagai "negeri di atas awan" karena kabutnya yang tebal di pagi hari. Cocok buat Kamu yang mau menikmati suasana tenang sambil menyantap makanan lezat.Bukit Sekipan
Kalau Kamu mencari tempat wisata outdoor yang seru, Bukit Sekipan di Tawangmangu adalah jawabannya. Tempat ini punya berbagai wahana menarik, dari miniatur dunia, rumah horor, hingga kolam renang tematik. Bahkan, ada juga penginapan berbentuk rumah kayu yang Instagrammable. Jadi, kalau Kamu mau liburan yang santai tapi tetap seru, Bukit Sekipan bisa jadi pilihan. LOkasi bukit sekipan ini memang tidak berada di kota solo, akan tetapi letaknya di kabupaten karanganyar, akan tetapi untuk menikmati wisata solo ini kamu bisa menggunakan jasa rental haice solo yang bisa kamu pesan melalui CS Paradiso Tour, hubungi sekarang!Agrowisata Sondokoro
Bagi yang suka wisata edukatif, Agrowisata Sondokoro adalah tempat yang menarik. Dulunya merupakan area perkebunan tebu, sekarang berubah menjadi tempat wisata keluarga yang menawarkan aktivitas seperti naik kereta wisata, berenang, dan terapi ikan. Selain itu, ada juga pabrik gula tua yang bisa Kamu eksplorasi untuk belajar tentang proses pembuatan gula dari tebu.Taman Hutan Rakyat Mangkunagoro
Ingin menikmati suasana hutan tanpa harus jauh-jauh ke luar kota? Taman Hutan Rakyat Mangkunagoro adalah tempat yang tepat. Hutan ini merupakan kawasan konservasi yang bisa Kamu jelajahi dengan berjalan kaki atau bersepeda. Suasananya masih asri, cocok buat Kamu yang butuh udara segar dan ketenangan setelah sibuk dengan urusan kota.Bengawan Solo
Terakhir, tapi tidak kalah ikonik, Bengawan Solo—sungai yang jadi inspirasi lagu legendaris Gesang. Sungai ini memiliki sejarah panjang dalam kehidupan masyarakat Solo. Sekarang, Kamu bisa menikmati wisata perahu menyusuri Bengawan Solo, sambil mendengarkan kisah sejarahnya dari para pemandu lokal. Pengalaman yang tenang dan penuh makna!Wisata Religi di Solo: Perjalanan Rasa dan Makna
Ada sesuatu yang unik dari perjalanan ke tempat-tempat ibadah. Bukan cuma soal arsitektur megah atau sejarah panjangnya, tapi juga soal perasaan yang muncul saat Kamu berada di sana. Tenang, damai, dan kadang, ada sedikit rasa haru yang sulit dijelaskan. Solo punya banyak destinasi religi yang bukan hanya tempat ibadah, tapi juga tempat untuk merenung, memahami, dan menemukan sesuatu dalam diri sendiri. Aku pernah merasakannya, dan mungkin Kamu juga bisa.Masjid Raya Sheikh Zayed Solo: Simbol Persahabatan
Masjid Raya Sheikh Zayed Solo
Saat pertama kali melangkah ke Masjid Raya Sheikh Zayed, aku sempat terpaku. Bangunannya berdiri megah dengan dominasi warna putih yang bersih, serasa sedang berada di Abu Dhabi. Masjid ini memang hadiah dari Uni Emirat Arab untuk Indonesia, sebagai simbol persahabatan antara dua negara.
Masuk ke dalam, suasana berubah lebih syahdu. Ornamen-ornamen Islam berpadu dengan cahaya alami yang masuk dari kubah besar. Salat di sini rasanya berbeda, lebih khusyuk, lebih mendalam. Kalau Kamu ingin merasakan pengalaman spiritual yang lebih kuat, cobalah datang saat subuh atau magrib—ketika langit Solo berubah warna dan suasananya semakin syahdu.
Masjid Agung Keraton Surakarta: Menyusuri Jejak Waktu
Masjid ini bukan sekadar tempat ibadah, tapi juga saksi sejarah Keraton Surakarta. Dibangun pada abad ke-18, Masjid Agung Keraton Surakarta masih berdiri kokoh dengan atap limasan khas Jawa.
Aku ingat pertama kali ke sini, aku hanya ingin melihat bangunannya. Tapi begitu duduk di serambi masjid dan merasakan angin sepoi-sepoi yang berhembus dari halaman, aku mulai berpikir—berapa banyak orang yang sudah datang ke sini dengan berbagai doa dan harapan?
Di masjid ini, aku melihat jamaah yang duduk diam dalam tafakur, ada yang membaca Al-Qur'an, ada pula yang sekadar memejamkan mata menikmati ketenangan. Di sini, waktu seolah berjalan lebih lambat.